UMRAH (2)

TUHAN LEBIH DEKAT KETIMBANG URAT LEHER-MU

Seperti biasa orang-orang menitip doa. Ketika berdoa di dua masjid dan depan ka’bah, saya berusaha mengingat-ingat nama-nama penitip doa beserta permintaannya. Paling banyak adalah agar diberi kesempatan melakukan umrah. Seorang sahabat secara khusus mengirim pesan pribadi di Fb menjelaskan alasan ingin ke Makkah : meminta suami.

Saya mendoakannya, berusaha sepenuh hati. Namun sesungguhnya saya hendak mengatakan : kau tak perlu berdoa di Makkah karena bukankah Tuhan lebih dekat ketimbang urat leher kita ? Berdoalah di kamarmu. Memohonlah sepenuh hati dan berserah diri.

Saya selalu merindukan Makkah dan Madinah. Namun meskipun demikian saya percaya pengabulan sebuah doa tak bergantung pada tempat. Tak ada tempat lebih suci dari lainnya. Itulah sebabnya saya tak pernah berusaha keras berebut berdoa di sudut-sudut yang dianggap memakbulkan doa : Hijir Ismail, Raudah, Multazam, Safa-Marwa. Bukan berarti saya menganggap tak ada yang istimewa dengan tempat-tempat tersebut. Tempat-tempat istimewa tersebut membantu pendoa untuk khusyuk dan berserah diri bukan sebab pengabulan.

Manusia cenderung berdoa dengan baik di tempat-tempat dengan atmosfer spiritual yang kuat. Di Makkah dan Madinah, peziarah, secara teori, melepaskan hal-hal duniawi. Mereka bisa menangis terguguk-guguk.

Jika teman-teman saya menitip didoakan secara tradisional, maka penitip doa pada Indreswaru sungguh bergaya kontemporer. Doa dan nama-nama dituliskan dengan spidol pada secarik kertas. Indreswaru lalu memegang kertas dan melakukan swapotret dengan latar tempat yang menjadi tujuan doa ( gaya yang sama dilakukan di Turki untuk teman-teman kuliahnya).

wp_20131226_010-3

Saya mengira itu gaya-gayaan belaka. Namun orang-0rang dewasa yang menitip doa seperti itu rupanya serius. Tapi saya tak mengomentari Indreswaru. Barangkali orang-orang itu pun berdoa di rumah masing-masih selain menitipkan kertas yang kemudian diunggah ke media sosial.  Orang masa kini berdoa di medsos, bukan ? Hehehe.

Kami tak sempat ke Raudah. Saya hanya ingin anak-anak melihat makam Rasulullah. Saya tak punya harapan berdoa di sana mengingat begitu ‘keras’nya perjuangan berdoa di situ. Semua orang menggelontorkan doa-doa selama mereka bisa sebelum ‘ditumbangkan’ jamaah lainnya atau dihalau petugas.  Saya mau shalat di sekitarnya saja. Namun karena harus segera menuju Makkah setelah dhuhur,  kami tak mengikuti arus jamaah perempuan menuju Raudah.  Malam sebelumnya, karena tak ada pemandu, jatah ke Raudah bagi jamaah wanita pun luput dari pengetahuan kami.

Doa-doa saya sendiri sama seperti doa-doa yang saya biasa panjatkan. Doa bagi saya adalah harapan, kepasrahan, ikhtiar dan keikhlasan. Manusia sering tak mengetahui hikmah di balik sesuatu. Pengabulan doa kerap adalah sebuah penemuan akan hikmah tersembunyi.

wp_20131229_011-3

UMRAH

20161229_071113-3

Tiba di Jeddah dinihari, 29 Desember 2017. Tiga tahun lalu saya terbang langsung dari Jakarta ke Madinah menggunakan maskapai yang sama, Saudia Airlines. Awalnya saya mengira bakal menggunakan Turkish Airlines sebagaimana yang tercantum pada lembaran itinerary. Kesan angkot yang terbentuk  tiga tahun lalu membikin saya tak senang. Pesawat tua dengan detil ringsek. Kru yang judes dan ogah-ogahan. Tiket yang tanpa nomor kursi sehingga penumpang berebutan.

Namun SA yang kami tumpangi kali ini sungguh berbeda. Pesawat baru. Layar LCD yang baru. Kru yang hangat dan efisien.  Terlebih SA yang membawa kami dari dan ke Istanbul nantinya. Kembali ke tanahair, sepertinya SA bersuasana angkot tersebut yang membawa kami.

Ini kali menempuh kurang lebih lima jam dari Jeddah ke Madinah. Saya menyukai jalan darat berjam-jam ketika berada di negara lain. Lansekap sebuah tempat terpeta melalui kaca bus. Orang-orang di jalanan. Perhentian-perhentian berupa masjid, pomben, atau restoran.

Baru kali ini saya melihat mentari pagi menggantung begitu penuh dan bulat. Jingga keemasan. Mengapung di atas dataran kering yang masih berupa siluet. Ketiadaan bangunan membuat surya sungguh paripurna. Kami terpukau.

20161230_160347-2

20161230_160335-2

Ini kali bukan umrah eksekutif. Saya mengambil paket umroh plus ke Turki seminggu dari sebuah biro perjalanan tak ternama, kecil dan -selanjutnya- dengan pelayanan mengecewakan.  Saya memilihnya semata karena biro ini menyediakan plus ke Turki enam hari.  Bukan dua hari sebagaimana umumnya yang ditawarkan biro-biro perjalanan lainnya. Tak ada informasi pilihan paket perak dan emas sebelumnya. Paket Perak berarti hotel seadanya di Saudi Arabia.

20161229_105708-2

Maka saya dan anak-anak sedikit ‘syok’ dengan hotel yang diberikan. Bukan ‘buruk’ sih. Terbiasa menginap di hotel-hotel yang ‘bagus’, hotel yang sebetulnya tak jauh dari Nabawi ini, sedikit mengejutkan. Kamarnya sempit dengan tiga ranjang kecil nyaris berdempetan. Interior seadanya. Hotel ini benar-benar hanya menekankan fungsi sebagai tempat untuk tidur, mandi dan makan. Ada satu-dua lukisan di dinding kamar, menempel miring.  Petugas kebersihan masuk kapan pun dia hendak membersihkan kamar. Televisi 20 inci menyiarkan drama-drama Turki dan Arab Emirat, berita dan siaran langsung ibadah dari Nabawi dan Masjid Haram. Ruang makan tak mampu menampung  jamaah yang makan sehingga banyak yang membawa makanan ke kamar atau makan di koridor.

20161231_100511-3

Saya rada-rada iba pada anak-anak. Ini pengalaman pertama mereka umrah. Di sisi lain, saya berpikir hotel sederhana adalah pengalaman yang baik bagi mereka. Selama ini, saban menginap di hotel, kami menginap di hotel berbintang.

Selain soal hotel, tak ada muthawwif dari biro perjalanan selama kami di Medinah. Praktis, kami seolah jamaah mandiri. Beruntung kebanyakan peserta yang jumlahnya cuma enam belas orang itu, sudah pernah melakukan umrah dan haji.  Sejak keberangkatan di Soetta kami diberitahu bahwa rombongan kami tanpa pendamping karena visa orang-orang itu belum keluar. Benar-benar aneh.

20161231_110524-2

Tapi ya sudahlah. Kami, rombongan kehilangan induk ini, akhirnya melakukan ibadah masing-masing bersama keluarganya. Ketika pusing dengan antrian makan di ruang makan yang sempit itu, kami mencari makan di luar. Saya dan Indreswaru sempat berkeliling-keliling mencari bakso. Ada papan nama bertuliskan ‘Warung Bakso Si Doel’, namun menyajikan makanan India dan Turki.  Ada restoran Turki di sebelah hotel, namun hanya menerima SAR. Saat itu saya belum punya SAR dan tak tahu ATM di sekitar kawasan tersebut. Swalayan yang menerima rupiah dan kartu yang akhirnya menjadi sasaran. Ada Starbucks tak jauh tugu Merpati, tapi kerumunan antrian menghilangkan keinginan.

20161229_105847-2

LONTONG BALAP, HASRAT YANG SAMPAI

Beberapa hari ini Ayah menyebut-nyebut Lontong Balap. Maka siang ini kami ke warung Jawa Timur dekat Ramayana. Sebelumnya mampir beli donat Mokko untuk Rombongan Bodrex -lima kawan Encul yang mengerjakan tugas sekolah di rumah.

Bagi lidahku yang menyenangi rasa tajam, Lontong Balap adalah jenis makanan yang gimana gitu. Bukan favorit saya namun bukan tak saya sukai. Merasa lebih kerap menentukan jenis makanan saat makan di luar, berimajinasi tentang selera suami yang terjajah, saya manut, ikut makan meski awalnya mau beli gado-gado lorong (warungnya terletak di sebuah gang kecil).

Nampaklah gundukan tauge diguyur saus petis dengan kuah warna coklat. Tiga sate kerang. Ayah mengambil tiga lentu lagi.

Lentu. Mbah Uti, mertua saya, rajin benar bikin perkedel singkong ini jika berkunjung ke rumah. Ia bahkan membekali saya sekotak lentu saat masih sekolah di Jogja, membikin saya termangu-mangu, berpikir ‘gimana ngabisinnya ya?’…hehehe.

Ayah makan dengan lahap. Kasihan sekali lelaki ini, pikir saya. Selama ini kami serumah jarang hore-hore atas selera Jatim-nya. Ketika kami makan di luar, kami berkisar-kisar Chinese Food, Nasi Kuning, Coto Makassar, Pempek, Tekwan, Bakso, Nasi Goreng, Nasi Padang…

Sangat jarang Lontong Balap, Rujak Cingur, atau Tahu Campur. Masakan Jatim paling popuer di rumah adalah Rawon. Itupun tak seberapa sering ketimbang Nasi Padang atau Coto Makassar. Pun, Ayah tak seberapa antusias makanan berdaging kecuali daging kambing.

Pernah sekali kami berhasil dibujuknya berburu Tahu Campur yang katanya terenak di kota ini. Warungnya terletak tak jauh dari pasar utama, di tepi jalan yang tanpa lampu jalan. Sedang menunggu pesanan, mendadak listrik padam. Kami makan diterangi lilin. Encul dan Mbak tak seberapa antusias. Tak terkesan, ditandai tak pernah meminta kembali makanan yang sama. Yang tertinggal adalah kenangan akan Tahu Campur yang ‘o yang lampu mati itu’ ? 

Malamnya, Saya kembali ke selera asal. Bersama Encul, makan Coto Makassar. Ayah tak makan. Seperti biasa, Saya memesan Coto dengan daging dan babat saja. Seperti biasa pula Encul memesan kuah saja dan mengambil dua-tiga potong daging dari mangkok-ku. Kuah tandas di mangkok.

Di sebelah warung Coto ada ampiran (angkringan) yang menjual ketan dan ronde. Saya membeli ronde dan Encul, olala, membeli sebungkus nasi gurih. Rupanya Ia belum merasa kenyang.

wp-image-1177585980jpg.jpg

.

98 NAMA LAINNYA

Memulai pagi tadi dengan menggoda status seseorang di fb. Sebetulnya, saya rada-rada berhati-hati terlibat perdebatan agama. Saya bukan yang dulu lagi : berapi-api, penuh hasrat mengalahkan pendapat orang lain, sibuk belajar demi berdebat dengan orang lain. Saya sudah tua dan -mungkin- lebih kalem. Lebih mau bijaksana. Percayalah, usia mempengaruhimu, hehehe.

Namun sebaris kalimat menggelitik saya. Terkait rencana demonstrasi kelompok Kau Tahu Siapa. Seseorang itu, kawan saya ini, hubungan kami baik-baik saja. Ia menulis status yang intinya menyatakan seorang Muslim yang menyinyiri rencana demonstrasi itu perlu memeriksa hatinya.  Kalimatnya tentu saja lebih berbunga-bunga. Saya menyederhanakannya.

Saya nimbrung, iseng. Mungkin pengaruh kopi abal-abal yang saya seruput.

Alkisah, ajakan demonstrasi atas nama umat Islam yang terzalimi disiarkan. Sekuel berikutnya dari hajatan sebelumnya yang sukses ; berlangsung relatif damai dengan korban hanya bebungaan tak penting (bebungaan tak ada dalam kitab suci sehingga tak cukup sakral untuk dibela). Ini kali digadang-gadang lebih kolosal.

Ada beberapa poin yang saya ingat yang ditujukan bagi peserta ; membawa makanan sendiri ( siapa bilang mereka panasbung ?), puasa Senin-Kamis sebelum hari H, dan menulis surat wasiat. Poin terakhir ini bikin saya terheran-heran. Keheranan yang ketika bersenyawa dengan kafein bermutu rendah, menghasilkan keisengan pagi hari.

( Wahai kaum beriman yang dimuliakan Allah SWT, hendak ke mana gerangan sehingga perlu-perlunya menulis wasiat ? Apa gerangan khayalan heroik kalian sehingga mengira kemungkinan tak bakal selamat ? )

Saya berkata : bukankah Tuhan Maha Pengampun ? Mengapa kalian tidak memaafkan orang yang telah meminta maaf ?

Salah seorang berkata : Tuhan memang Maha Pengampun namun Dia memiliki 98 nama lainnya selain Maha Pengampun.

Lalu kalian itu Tuhan ? Tanya  saya. Pelaksana nama Dia yang lain ?

Berakhir dengan berondongan untuk saya ‘munafik, kafir, tidak memiliki ghirah‘.

Sempat saya menyinggung soal ghirah. Bagaimana membedakan ghirah dengan syahwat amarah tiada henti ?

Kemudian saya berlalu. Tak lagi melanjutkan. Beberapa jam kemudian saya menerima notifikasi bahwa nama saya disebut oleh salah seorang dari mereka. Namun saya bergeming. Saya benar-benar tak lagi berminat. Selain bahwa karena keisengan saya telah terpenuhi.

Namun akhirnya setelahnya saya masih terlibat membahas topik agama -agama yang bisa jadi dijadikan tameng kepentingan politik.

Ya begitulah.

ADA YANG BACA, GAK ?

Di sofa dengan bantalan kursi tak keruan dan serakan buku, Encul menjampuk kesibukanku. Ia bertanya cara mandi wajib usai menstruasi. Bulan lalu saya telah mengajarkannya dan ia lupa. Dicatatnya di buku. Kalakian ia bertanya setelah ikut melongok-longok layar laptop. ” Ada yang baca ? Sudah berapa yang baca ?”

Encul punya blog sejak SD. Sejak Negara Api  minatnya dikuras gelombang K-Pop dan game daring, blog tersebut terbengkalai di pemakaman dunia maya. Saya memasang penghitung pengunjung saat itu dan ia selalu senang dengan kunjungan pembaca. Baginya blog yang dimampiri berarti menarik.

Saya menjelaskan bahwa saya tidak perduli ada pembaca atau tidak. Seramai pasar atau sesenyap kuburan. Yang penting Bun menulis Dek. 

Sebetulnya, alasan saya mendadak kembali nge-blog adalah didera kejenuhan ber-facebook-ria.  Serius. Sejak sibuk di Fb, saya malas menulis di blog. Menulis status di fb begitu mudah, pendek-pendek, ngomong seenaknya dan apa saja. Sekelewatan dan sembari merintang hari.  Lebih interaktif. Selalu berisi dengungan tiada henti. Seperti sebentang sungai dengan arus kata-kata. Keluhan, kritikan, umpatan, pameran pribadi, ceramah kebijaksanaan, pasar agama, perkelahian politik. Kotak pandora dari Mark Zuckerberg. Terima kasih, tapi saatnya lebih berceratai ke ceruk pribadi -jika bisa ahaha.

Saya pikir bukan hanya saya yang lebih sibuk di medsos seperti fb ketimbang di blog. Menulis di blog lebih butuh waktu dan ketekunan tersendiri. Bahkan jika isinya remeh-temeh pribadi. Tidak bisa ditulis saat kau antri atm atau sedang berada di angkot. Maka terlihat jelas kekuatan fb, twitter dan instagram.

Namun saya takkan meninggalkan fb dan sebangsanya. Tetap menjadi bagian kawanan laron, mendengung-dengung mengitari lampu. Medsos masa kini adalah informan pertama sebelum kau menyaksikan  berita di tv dan portal berita daring.  Saya hanya ingin kembali menulis diary sebagaimana saya melakukannya di SD hingga kuliah.

T.a.N.g.I.e.R (5)

You realize how much fun we did have, with no money at all. We’d stay in peoples’ homes in Tangiers.  When you’re young, you invite yourself.

-Manolo Blahnik-

4224429284_1aa96a3799

Grand Socco, 1950’s

————————————————————————–

morocco-the-main-street-tangier-morocco-antique-print-1887-143677-pekm400x228ekm

Tangier  1887

———————————————————————

ysl-in-tangier

Yves Saint Laurent, Tangier

Saya mengerti mengapa kota ini memikat para bohemian. Terlebih pada masa ketika Tangier menjadi kawasan internasional antara tahun 1923-1956. Letaknya strategis. Orang-orang Eropa dan Amerika menemukan sepetak surgawi dimana sesuatu yang baru dan yang kuno berdampingan. Yang bebas dan yang tertahan sama menghidu aroma kota.

Tahun 1950-an, William Burroughs, penulis Amerika itu, menetap di kamar nomor 9 hotel El Muniria.  Ia mengisap ganja dan menulis Naked Lunch.  Di tempat yang sama,  tiga penulis lainnya, Allen Ginsberg, Jack Kerouac dan Paul Bowles, menyewa kamar-kamar berbeda. Begitu banyak penulis dan seniman wara-wiri di Tangier.

Bill Murray menggambarkan Maroko dengan sangat pas dan saya kira Tangier secara khusus bisa meminjam gambaran tersebut : Entry level Africa dan entry level Muslim World Country.

Tangier yang berada di bibir Gibraltar mungkin merupakan kota di Maroko yang paling kosmopolitan. Kota dari sebuah negara dengan mayoritas Muslim, yang tentu saja manyandang stereotip tertentu, ternyata mengingkarinya. Ada kasino. Ada minuman beralkohol. Para perempuan ada yang berhijab ada yang tidak.  Kota ini, negara ini, begitu terbuka.

Saya menemukan humor dalam Bill Murray ketika ia berkata :  So if you’re interested in growing your experiences but too scared to hit up Africa or a Muslim country, I recommend you try Morocco…

 

20160502_181201-3

 

20160502_182526-2

 

DSCN0915

 

DSCN0903 (2)

 

DSCN0925 (2)

 

20160502_182312-2

 

20160502_180904 (2)

 

20160502_180837 (2)

 

20160502_181928-2

 

20160502_182135-2

 

20160502_182605-2

 

20160502_182916-2

 

20160502_182241-2

 

 

T.a.N.g.I.e.R (4)-RIF dan Cap Spartel

Usai keliling-keliling souk dan medina, kami ke bagian barat Tangier. Pemandangan sepanjang kawasan yang biasa dijadikan tujuan tetirah musim panas ini sungguh menawan. Laut berkilauan, berwarna biru gelap dan toska, pegunungan Rif membentang. Nampak pula gugusan kubus putih -bangunan kejauhan. Dua ekor sapi merumput damai. Bunga semak berwarna kuning, ungu, putih. Ibu Erna berkali-kali terdengar berkata takjub : “Alus pisan euy !”  Clik. Clik.  Suara rana kamera lalu menyusul.

20160503_105851_HDR (2)

20160503_110139_HDR

20160503_111145_HDR (2)

20160503_111737_HDR (2)

Pegunungan Rif berbaring di utara Maroko. Bukan bagian dari pegunungan Atlas. Membentang dari Cap Spartel dan Tangier di Barat, Ras Kebdana dan sungai Mewliya di bagian Timur, laut Mediterania di bagian Utara dan sungai Wergha di bagian Selatan.

Melintasi rumah-rumah musim panas. Istana-istana para emir Arab ; termasuk milik raja Saudi Arabia dan Jordania. Angin dingin mendesir-desir. Tak ramai karena bukan musim panas, kata pemandu, menjelaskan kesunyian damai tersebut.

20160502_175820 (2)

 Istana Musim Panas Raja Saudi 

bangunan sepanjang jalan

Kami berhenti di km 12, spot turis : Cap Spartel. Sebuah mercusuar tegak di ketinggian kurang lebih 300 m dpl, di puncak bukit Quebir (Jebel Khebir), menghadap Gibraltar. Di bawah ada gua Hercules (kami tak mendatanginya).

DSCN0882

cap_spartel_tanger_anciennes_temps

Mercusuar Cap Spartel pada tahun 2016 dan 1864

Bangunan persegi menjulang ini membagi benderang ke lautan sekelilingnya sejak tahun 1864.  Seratus lima puluh dua tahun ia menghitung angin, gelombang dan kapal. Dibangun atas prakarsa sembilan  negara  Eropa, Amerika dan Maroko.  Negara-negara  ini berkepentingan atas keamanan perairan Maroko.

Sembilan negara Eropa itu : Spanyol, Italia, Perancis, Portugis, Belgia, Belanda, Swedia, Inggris dan Austria. Dikerjakan dalam masa empat tahun dengan penyelia insinyur Perancis, ML. Jacquet.

Bacaan selanjutnya :

Avalon Project

Lighthouses of Morocco